Developing Trust In Asia Amidst New Us Military Deployments: An Indonesian Perspective

.

DEVELOPING TRUST IN ASIA AMIDST

NEW US MILITARY DEPLOYMENTS:

AN INDONESIAN PERSPECTIVE

Maria Monica Wihardja

Researcher at the Centre for Strategic and International Studies Jakarta

 

 

Presiden AS Barack Obama yang mengunjungi Australia  sebelum menghadiri East Asia Summit (EAS) mengumumkan bahwa mulai tahun 2012 sekitar 2.500 Marinir AS akan menuju Darwin, Australia Utara. Hal ini jelas mendapatkan reaksi beragam dikawasan Asia Pasifik, termasuk di Indonesia dan China. Di satu sisi, akses baru AS ke pangkalan-pangkalan angkatan laut Australia dapat dipahami sebagai tindakan untuk membendung agresifitas Cina. Kegiatan Cina di Laut Cina Selatan telah dianggap sebagai tindakan yang harus diwaspadai, khususnya bagi negara-negara laut di kawasan tersebut.

Hadirnya Amerika Serika salah satunya ialah untuk membentuk balance of power dengan tidak  membiarkan China menjadi kekuatan tunggal yang mendominasi di kawasan ini. Di sisi lain, pangkalan militer Amerika ini hanya terletak sekitar 800 km dari perairan Indonesia, jelas menimbulkan kecurigaan khususnya bagi Indonesia akan adanya kebijakan tersebut.

Memelihara perdamaian, stabilitas dan keamanan antara satu regional terhadap regional lain memang bukan perkara yang mudah, terlebih setiap negara mempunyai national interest tersendiri, Selat Malaka ialah perairan ekonomi yang krusial bagi dunia di Asia Tenggara, untuk itulah negara besar berusaha mengamankan jalur ini sebagai jalur yang aman bagi mereka berniaga. Hadirnya East Asia Summit (EAS) sebagai satu forum untuk membahas dan mendiskusikan isu keamanan dikawasan Asia Timur memang menjadi satu-satunya cara bagi negara kawasan untuk menjaga regional tetap aman. Dalam deklarasi EAS dinyatakan, ASEAN merupakan “kekuatan pendorong” bagi terciptanya perdamaian dikawasan ini.

Diplomasi yang kredibel dan transparan sangat penting dalam fenomena ini. Terlebih beberapa negara ASEAN seperti Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei mengakui keberatan dan khawatir atas agresifitas China di Laut China Selatan. Demikian pula, media melaporkan bahwa negara-negara ASEAN masih belum mendapatkan penjelasan tentang agenda militer AS tentang pangkalan militer di Darwin. Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa mengatakan bahwa kawasan ini harus menghindari lingkaran setan yang mengakibatkan ketegangan sejak AS mengumumkan akan mengadakan pangkalan militer di Darwin.

Selain itu, harus ada mekanisme self-reinforcing dimana kepercayaan dan kerjasama dapat dipertahankan antara setiap negara. Hal ini membutuhkan adanya peraturan internasional agar kerjasama antara negara dapat terjalin tanpa adanya intervensi terhadap kedaulatan nasional. Sebagai contoh, penggunaan hukum laut internasional. Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) menjadi penting dan berpengaruh terhadap kestabilan kawasan ini, karena adanya peraturan yang berlaku umum bagi setiap negara yang meratifikasi untuk mematuhi aturan-aturan dalam konvensi ini. Selain itu, ASEAN juga akan meratifikasi protokol baru mengenai Southeast Asia Nuclear Weapon-Free Zone (SEANWFZ), termasuk menyetujui landas kontinen maritim dan Zona Ekonomi Eksklusif bagi setiap negara kawasan Asia Tenggara.

Sekuritisasi berlaku bagi setiap negara karena itu anggota EAS harus lebih aktif dan kreatif untuk menemukan mekanisme kerja sama ekonomi dan keamanan yang dapat menghasilkan win-win solution. Indonesia merekomendasi untuk mengadakan latihan militer bersama antara Amerika Serikat, Cina, Jepang dan Indonesia sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kerjasama khususnya dalam bidang pertahan. Dengan cara inilah Amerika Serikat dapat memberikan kontribusi bagi perdamaian dan keamanan regional, bukan menciptakan kecurigaan, ketegangan, dan ancaman terutama atas Cina.

Dengan keterlibatan di kawasan Asia Pasifik, Amerika juga diharapkan dapat menggunakan EAS sebagai salah satu forum untuk memperkuat kerjasama dengan negara anggota. Diplomasi transparan dan kredibel, bersama-sama menciptakan mekanisme untuk membangun dan mempertahankan siklus kerjasama yang diperlukan untuk keamana regional Asia Pasifik kedepannya.


 

Advertisements
This entry was published on June 23, 2012 at 1:02 pm. It’s filed under Review Article and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: